Langsung ke konten utama

William Henley: Pencapaian Akan Sebanding dengan Usaha

CEO IndoSterling Group William Henley (Foto: Net) 



Teknologi informasi (TI) dan finansial adalah dua dunia yang tak terpisahkan dalam hidup William Henley. Kendati kini dia berkiprah di pasar modal, aroma dua dunia itu tetap tercium dalam langkahnya. William Henley telah berkiprah di pasar modal sejak 1996 dan telah menjalankan berbagai peran di industri tersebut, mulai dari sales hingga menduduki posisi puncak manajemen. Pria yang tidak selesai menempuh pendidikan formal dalam ilmu komputer ini menemukan kecintaannya di dunia finansial. Namun, “aroma” TI dan komputer tidak pernah lepas dari kariernya.

Setelah melepas jabatan bergengsi di CIMB Securities di penghujung 2010, pria ini kemudian mendirikan IndoSterling Group sebagai investment holding company yang berkiprah di beragam sektor.

"Saya termasuk orang yang tidak bisa diam dan selalu mencoba untuk improve. Setelah sukses menggeluti bidang finance, saya sedang membangun bidang strategic investment. Kalau saya sudah sukses dengan sebuah proyek, maka langkah berikutnya adalah mencoba untuk mengerjakan lebih banyak proyek baru, atau mencoba melakukan proyek sejenis dalam skala yang lebih besar lagi,” ujar CEO IndoSterling ini di Jakarta, akhir pekan lalu.

Saat ini, IndoSterling Group memiliki portofolio investasi yang beragam di bidang TI, mulai dari platform business-to-business yang telah digunakan perusahaan papan atas seperti Bursa Efek Indonesia, emiten-emiten pasar modal, sampai ke produk business-to-consumer berupa platform iklan berbasis lokasi bernama LOKAmedia.

Pasar Modal

Dia mengatakan, proses menapak karier sampai ke manajemen puncak di industri pasar modal dilandasi oleh kondisi yang dikembangkan secara bertahap dan melalui proses yang cukup panjang.

"Saya termasuk orang yang percaya bahwa pencapaian seseorang akan sebanding dengan usaha seseorang. Artinya, orang yang memiliki prestasi yang di atas rata-rata, kemungkinan besar akan mengeluar usaha yang di atas rata-rata juga. Jika yang dimaksud dengan rata-rata itu adalah balance, terus-terang rasanya hidup saya tidak balance,” kata William.

Menurut dia, pola hidup yang tidak balance itu sudah merupakan sebuah pilihan dan konsekuensi dari ambisi dan cita-cita dalam merintis karier. “Itu memang sudah dikomunikasikan ke keluarga saya,” ujarnya.

Menurut dia, industri pasar modal merupakan sektor yang sangat kompetitif, sehingga kepiawaian seseorang dalam menapaki sektor ini sering kali menjadi perhatian dan sorotan para pelaku lainnya.

Oleh karena itu, para profesional pasar modal yang berhasil mengukir konduite yang bagus bisa mengembangkan karier selanjutnya. Karena konduite di pasar modal yang sudah mumpuni, William bahkan pernah dicalonkan sebagai direktur Bursa Efek Indonesia untuk periode 2012-2015.

Keputusan William untuk berkutat di dunia finansial didasari oleh masih banyaknya peluang di bidang ini di Indonesia, terutama jika dilihat dari umur pasar modal Indonesia yang masih sangat muda.

Indonesia dengan penduduk 240 juta hanya memiliki 500 emiten saham di Bursa Efek Indonesia. Sementara di Singapura dengan penduduk sebanyak 5 juta jiwa sudah memiliki 770 emiten saham, Malaysia dengan penduduk 60 juta jiwa memiliki 900 emiten saham, dan Australia berpenduduk 25 juta jiwa memiliki 2.000 emiten saham. Dari perbandingan tersebut, terlihat bahwa potensi industri pasar modal Indonesia masih luar biasa besar.

Menurut dia, industri keuangan secara umum, terutama sektor pasar modal adalah industri yang penuh dengan dinamika dan irama yang tinggi. Selain itu, kesuksesan seseorang di pasar modal sangat ditentukan oleh kredibilitas yang dibangun secara perlahan-lahan di tengah gejolak dinamika pasar modal nasional dan global.

Menurut William, tidak banyak yang bisa bertahan karena tingkat stres yang tinggi. Akan tetapi, untuk orang-orang yang bisa bertahan, potensi yang ditawarkan luar biasa besar. Tantangan utama pasar modal Indonesia adalah financial ecosystem yang belum terbentuk secara optimal.

Memang, penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa tersebut merupakan potensi yang sangat besar. Akan tetapi, ekosistem keuangan yang masih sangat muda membuat potensi tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk bisa direalisasikan. Contohnya, kurang dari 30 persen dari penduduk Indonesia yang memiliki rekening bank. Padahal, sebelum seseorang bisa melakukan investasi (beli reksa dana, transaksi saham/obligasi) minimal dia harus memiliki rekening bank dulu.

Di tengah kesibukan yang padat, dia mengaku, tetap berupaya menjaga agar kondisi badan tetap fit. “Saya masih menyempatkan diri untuk melakukan olah-raga ringan dan menjaga pola makan,” katanya. (Imam Suhartadi/AB)

Sumber: Investor Daily

Komentar